Masalah Kejahatan: Jika Allah Ada, Mengapa Ada Penderitaan?
Pertanyaan paling sulit yang dihadapi setiap agama: jika Allah itu ada, baik, dan berkuasa, mengapa ada penderitaan yang begitu besar? Islam tidak menghindari pertanyaan ini. Jawabannya jujur, bertahap, dan tidak menyederhanakan rasa sakit.
Masalah Kejahatan: Jika Allah Ada, Mengapa Ada Penderitaan?
Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Dan siapa pun yang memberikan jawaban yang terlalu mudah, terlalu cepat, kemungkinan besar tidak memahami betapa beratnya pertanyaan itu.
Seorang anak meninggal karena penyakit. Gempa bumi menghancurkan ribuan nyawa dalam hitungan menit. Seseorang yang tidak pernah menyakiti siapa pun menderita selama bertahun-tahun. Seseorang yang jahat justru hidup makmur dan berkuasa.
Jika Allah itu ada, Maha Baik, dan Maha Kuasa โ mengapa ini semua bisa terjadi?
Kejujuran sebagai Titik Awal
Sebelum menawarkan jawaban, penting untuk mengakui dua hal.
Pertama: ini adalah pertanyaan yang sangat serius dan sangat sah. Ini bukan "pertanyaan orang yang tidak percaya" yang bisa dengan mudah diabaikan. Ini adalah pertanyaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman pun di momen-momen paling berat dalam kehidupan mereka.
Kedua: tidak ada jawaban yang sepenuhnya memuaskan secara emosional bagi seseorang yang sedang mengalami penderitaan nyata. Penjelasan filosofis yang paling elegan pun tidak akan mengusir rasa sakit kehilangan seseorang yang dicintai. Dan tidak seharusnya demikian.
Dengan dua pengakuan itu, mari kita lihat apa yang Islam katakan tentang ini.
Apa yang Al-Quran Lakukan dengan Penderitaan
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa Al-Quran tidak menghindar dari tema penderitaan. Justru sebaliknya.
Kisah Nabi Ayub adalah kisah seseorang yang kehilangan hampir segalanya โ kesehatannya, hartanya, keluarganya โ dan yang meratap kepada Allah: "Sesungguhnya aku ditimpa bahaya dan Engkau adalah Yang Paling Penyayang di antara para penyayang."
Al-Quran juga berbicara tentang kesedihan Nabi Ya'qub yang kehilangan putranya Yusuf sampai matanya memutih karena menangis. Tentang kepedihan Maryam saat melahirkan sendirian. Tentang penderitaan kaum beriman yang dianiaya.
Al-Quran bukan buku yang menginstruksikan penganutnya untuk berpura-pura baik-baik saja. Ia mengakui penderitaan sebagai nyata dan menyakitkan.
Beberapa Lapisan Jawaban
Tradisi Islam menawarkan beberapa perspektif yang berbeda tentang masalah ini, dan masing-masing menyentuh aspek yang berbeda dari pertanyaan itu.
Perspektif pertama adalah tentang kebebasan. Banyak kejahatan di dunia adalah hasil dari pilihan manusia โ perang, penindasan, kekejaman, ketidakadilan. Jika Allah menciptakan manusia dengan kebebasan sejati untuk memilih, konsekuensinya adalah bahwa manusia bisa menggunakan kebebasan itu untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Allah yang mencegah semua konsekuensi buruk dari pilihan manusia pada dasarnya menghilangkan makna dari kebebasan itu sendiri.
Tapi ini tidak menjawab penderitaan yang bukan akibat pilihan manusia โ bencana alam, penyakit genetik, kelahiran bayi dengan kondisi medis yang berat.
Perspektif kedua adalah tentang ujian dan pembentukan karakter. Al-Quran berulang kali menyebut bahwa kehidupan adalah ujian โ bukan ujian yang bermaksud menyiksa, tapi ujian yang bersifat formatif, seperti latihan yang membentuk kekuatan. Kesabaran yang dikembangkan dalam menghadapi penderitaan adalah sesuatu yang tidak bisa dikembangkan dengan cara lain.
Tapi ini pun tidak sepenuhnya memuaskan ketika penderitaannya adalah penderitaan orang yang tidak bersalah.
Perspektif ketiga adalah tentang keterbatasan perspektif manusia. Ada sebuah hadis yang sangat terkenal: "Urusan orang beriman sungguh menakjubkan โ semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia mendapat kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya."
Ini bukan klaim bahwa penderitaan itu tidak nyata atau tidak menyakitkan. Ini adalah klaim bahwa ada konteks yang lebih besar dari penderitaan โ konteks yang manusia seringkali tidak bisa melihatnya saat ia sedang di dalam penderitaan itu.
Perspektif keempat adalah tentang keadilan yang ditangguhkan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini bukan satu-satunya panggung di mana keadilan beroperasi. Ada akhirat โ dan di sanalah keadilan sempurna ditegakkan. Mereka yang menderita tanpa salah akan mendapat kompensasi. Mereka yang berbuat zalim tanpa hukuman duniawi akan bertanggung jawab.
Apa yang Tidak Dipuaskan oleh Jawaban-Jawaban Ini
Kita harus jujur: ada momen di mana semua penjelasan ini terasa tidak cukup. Dan itu adalah respons yang sah.
Ketika seseorang duduk di samping ranjang anak mereka yang sekarat, tidak ada penjelasan teologis yang akan membuat rasa sakit itu pergi. Dan tidak seharusnya kita berharap penjelasan itu berfungsi seperti itu.
Kisah Nabi Ayub tidak berakhir dengan Ayub mendapat penjelasan yang lengkap tentang mengapa ia menderita. Ia berakhir dengan Ayub mendapat respons yang berbeda: sebuah "pertemuan" yang melampaui penjelasan. Al-Quran menggambarkan bahwa Allah menjawab Ayub bukan dengan kata-kata tapi dengan pemulihan.
Respons Aktif: Islam Tidak Hanya Berfilsafat
Salah satu aspek yang sering terlewat dalam diskusi tentang masalah kejahatan adalah bahwa Islam tidak hanya mengajak berfilsafat tentang penderitaan โ ia mengajak untuk bertindak terhadapnya.
Zakat adalah salah satu dari lima rukun Islam โ kewajiban memberikan sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan. Sedekah sangat ditekankan. Menolong yang lemah, membela yang teraniaya, membebaskan budak dalam konteks historisnya โ semua ini adalah kewajiban aktif.
Pertanyaan "mengapa Allah membiarkan ini terjadi?" dalam Islam seringkali ditransformasi menjadi: "Allah telah memberikan kepada kita kemampuan dan sumber daya untuk mengurangi penderitaan โ apa yang kita lakukan dengan itu?"
Ini bukan cara menghindari pertanyaan filosofis. Ini adalah cara mengakui bahwa jawaban atas masalah penderitaan tidak hanya bersifat intelektual tapi juga bersifat praktis.
Pertanyaan untuk Direnungkan
- Apakah ada momen dalam hidupmu di mana penderitaan โ milikmu atau milik orang lain โ membuatmu mempertanyakan kepercayaanmu tentang Tuhan atau makna hidup?
- Penjelasan mana dari yang disebutkan di atas yang paling resonan bagimu, dan mana yang paling sulit diterima?
- Apakah rasa tidak puas terhadap jawaban teologis tentang penderitaan adalah tanda kelemahan iman atau tanda kejujuran intelektual?
faq
Apa itu 'masalah kejahatan' secara filosofis?
Masalah kejahatan adalah argumen yang menyatakan bahwa keberadaan Allah yang maha baik, maha kuasa, dan maha tahu tidak konsisten dengan adanya penderitaan dan kejahatan di dunia. Jika Allah memiliki ketiga sifat itu, mengapa tidak mencegah penderitaan? Ini adalah salah satu argumen paling kuat dalam tradisi ateisme filosofis.
Apakah Islam mengakui bahwa pertanyaan ini sulit?
Ya. Al-Quran sendiri mengisahkan tokoh-tokoh seperti Nabi Ayub yang bergulat dengan penderitaan yang sangat besar dan mengungkapkan keluhannya kepada Allah. Tidak ada instruksi untuk berpura-pura penderitaan tidak ada atau tidak menyakitkan.
Apa konsep 'ujian' dalam Islam dan bagaimana ia berhubungan dengan penderitaan?
Islam memandang kehidupan sebagai ujian โ tapi bukan ujian yang kejam. Ujian dalam pengertian ini lebih mirip dengan proses yang membentuk karakter: besi yang dipanaskan dan ditempa menjadi lebih kuat. Penderitaan bisa menjadi konteks di mana kualitas-kualitas seperti kesabaran, ketabahan, dan kepercayaan berkembang.
Bagaimana Islam menjawab penderitaan yang tampaknya tidak adil โ seperti anak yang sakit?
Ini adalah titik paling sulit, dan kejujuran mengharuskan kita mengakui bahwa tidak ada jawaban yang sepenuhnya memuaskan secara emosional. Islam menawarkan beberapa perspektif: bahwa alam akhirat tempat keadilan sempurna akan ditegakkan; bahwa anak yang menderita mungkin memiliki kedudukan khusus di sisi Allah; tapi juga pengakuan bahwa manusia tidak memiliki akses ke semua hikmah di balik setiap kejadian.
Apakah ada respons Islam terhadap penderitaan yang bersifat aktif, bukan hanya pasif?
Sangat ditekankan. Islam sangat menekankan kewajiban aktif untuk mengurangi penderitaan โ sedekah, zakat, menolong yang lemah, melawan ketidakadilan. Pertanyaan 'mengapa Allah membiarkan ini terjadi' dalam Islam seringkali dibalik menjadi 'apa yang bisa saya lakukan untuk mengubahnya?'