Kehidupan, karakter, dan warisan Nabi Islam
Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) lahir di Mekah pada tahun 571 M. Ayahnya Abdullah wafat sebelum kelahirannya, dan ibunya Aminah meninggal ketika beliau berusia enam tahun. Beliau dibesarkan di bawah asuhan kakeknya Abd al-Muttalib, kemudian pamannya Abu Thalib.
Sebagai pemuda, Nabi berpartisipasi dalam perdagangan karavan dan dikenal karena kejujuran dan keandalannya. Beliau mendapat gelar 'Al-Amin' (Yang Terpercaya). Beliau menikahi Khadijah pada usia 25 tahun.
Pada usia 40 tahun, wahyu pertama datang di Gua Hira: 'Bacalah!' (Al-Alaq 1). Momen ini menandai awal Islam. Selama 13 tahun pertama, misi yang menantang berlanjut di Mekah, diikuti oleh hijrah ke Madinah.
Di Madinah, beliau mendirikan komunitas Islam dan menandatangani Piagam Madinah — perjanjian antara Muslim, Yahudi, dan lainnya. Beliau menerapkan prinsip keadilan dan syura (musyawarah).
Pada usia 63 tahun, saat Haji Wada, beliau menyampaikan Khutbah Wada — sebuah pesan universal tentang kesetaraan, keadilan, dan hak bagi seluruh umat manusia. Beliau wafat di Madinah pada tahun 632 M.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Taberani
Mudahkanlah dan jangan dipersulit. Berikan kabar gembira dan jangan menimbulkan kebencian.
Buhâri, Müslim
Orang kuat bukanlah yang mengalahkan orang lain dalam gulat; orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.
Buhâri
Beliau menunjukkan kasih sayang bahkan kepada musuhnya, dan memberi perhatian khusus pada rasa kasih terhadap anak-anak dan hewan.
Beliau berkata: 'Seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.' Semua orang setara di hadapan hukum.
Beliau mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan. Beliau membebaskan tawanan Badr dengan syarat mereka mengajarkan membaca dan menulis.
Beliau menggali parit bersama para sahabatnya, mengenakan pakaian yang ditambal, dan mengunjungi tetangganya. Beliau menjalani kepemimpinan dengan kesederhanaan.
Tidak ada orang dalam sejarah yang menciptakan begitu banyak transformasi dengan begitu sedikit sumber daya. Putra seorang gembala membangun peradaban yang mempengaruhi tiga benua dalam 23 tahun. Pencapaian luar biasa ini bukan sekadar fakta sejarah — ini mengajukan pertanyaan yang mendalam.